Gigit Ekor Sapi di Pacu Jawi

Hai Kawan,

Jalan di pematang sawah, mandi lumpur, gigit ekor, sampai siap kabur dikejar sapi. Itu seru dan uniknya Pacu Jawi.

Sebenarnya menyaksikan Pacu Jawi bukan jadi tujuan saya saat melewati kabupaten Tanah Datar, khususnya kota Batusangkar, di Sumatera Barat. Kota Batusangkar merupakan ibukota Kabupaten Tanah Datar, dan terletak 97 km atau sekitar 3 jam perjalanan dari kota Padang. Kota ini bisa dicapai melalui kota Padang Panjang ataupun Bukittinggi. Kabupaten Tanah Datar disebut juga sebagai Luhak Nan Tuo karena diyakini sebagai daerah asal masyarakat Minang Kabau . Kabupaten ini mempunyai banyak atraksi yang merupakan tradisi turun temurun anak Nagari dan Pacu jawi adalah salah satunya.

Informasi mengenai Pacu jawi saya dapatkan waktu mengunjungi Benteng Van Der Capellen yang saat ini digunakan sebagai kantor dinas kebudayaan pariwisata kabupaten Tanah Datar. Sebelumnya saya pernah menyaksikan di televisi dan juga melihat foto atraksi ini, yang jadi salah satu pemenang kompetisi fotografi tingkat dunia, di sebuah majalah penerbangan. Beruntung karena besok Pacu Jawi akan dilaksanakan di dekat kota Batusangkar.

Pacu Jawi atau Pacu Sapi merupakan kegiatan tradisional masyarakat kabupaten Tanah Datar yang dilaksanakan setelah panen padi selesai, sambil menunggu musim tanam berikutnya. Tempat pelaksanaannya di sawah yang masih berair, sekaligus  mengolah tanah sebelum ditanami. Jadi dalam setahun bisa diadakan sampai tiga kali. Tempat pelaksanaannya berpindah-pindah di kabupaten Tanah Datar. Informasi tempat pelaksanaan bisa didapatkan dari dinas kebudayaan pariwisata kabupaten Tanah Datar.

Pacu Jawi mirip dengan Karapan Sapi di Madura. Perbedaannya adalah Karapan Sapi di Madura dilaksanakan di lapangan kering dan mencari waktu tercepat. Pacu Jawi tidak mencari waktu tercepat tetapi menilai sapi yang bisa berjalan lurus dalam lintasan dan akan menjadi yang terbaik. Gengsi pemiliknya akan naik, begitu pula harga sapi.

Pagi ini Pacu Jawi dilaksanakan di Kota Hilang (Koto Iliang), Sungai Tarab, 15 menit sebelum masuk Batusangkar dari Bukittinggi atau Payakumbuh. Sawah yang dipilih berada di perbukitan di belakang perumahan masyarakat. Jadi saya harus memarkir mobil di rumah penduduk dan berjalan kaki 15 menit di pematang sawah.

Tidak ada yang formal pada pelaksanaan Pacu Jawi. Tidak ada nomor urut, hakim garis dan pencatat waktu, semuanya serba spontan. Jadi siapa yang sudah siap bisa membawa sapinya ke lintasan. Dua ekor sapi akan dikalungkan alat seperti bajak untuk joki berdiri dan mengendalikan. Serunya tidak semua sapi menurut waktu dibawa ke lintasan. Bukan hanya pemilik dan joki yang harus siap mengendalikan sapi, para penonton yang berdiri disekitar sawah juga harus siap lari jika sapi memilih kabur ke arah penonton. Resiko lainnya menonton di barisan paling depan adalah mandi lumpur saat sapi  melintas.

pacujawi02

Yang unik dari Pacu Jawi adalah:

1. Ada spesialis joki. Jadi joki belum tentu pemilik sapi. Seperti joki 3 in 1 di Jakarta, joki cukup berdiri di garis start menunggu ditunjuk atau menawarkan diri. Joki-joki ini sudah biasa mengendalikan sapi pacuan.
2. Cara mengendalikan arah lari sapi. Karena tidak ada setir, jadi sapi dikendalikan dengan menarik ekor dan digigit! Ekor sapi yang digigit tergantung arah yang dituju. Cara ini berbeda dengan Karapan Sapi Madura yang menggunakan kayu tajam.

pacujawi01pacujawi06

Kamu wajib menyaksikan acara tradisional ini karena unik, seru, dan menegangkan. Jangan lupa bawa baju ganti dan siap lari jika sapi keluar jalur!

Selamat menjelajah!

@kawanjelajah

#ayojelajahindonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s