Pasar Lama Tangerang, Antara Ceng Ho, Cioh Sai, dan Cobra

Hai Kawan,

Sudah dua puluh tahun lebih saya tinggal di Tangerang, tetapi tidak banyak yang saya ketahui tentang sejarah dan tempat wisata di kota ini. Googling, dan inilah hasil pencarian dan penjelajahan saya, satu hari di Kawasan Pasar Lama, Tangerang.

Masuk Lorong Waktu di Museum Benteng Heritage

Pertama kali mengunjungi Museum Benteng Heritage di kawasan Pasar Lama, Tangerang, saya datang di pagi hari. Jalan Cilame, yang merupakan pasar tradisional, dipenuhi oleh pedagang sayur dan ikan. Sempit, hanya muat untuk satu mobil, ramai, becek dan bau pasar. Bangunan ini tertutup tenda dan lapak para pedagang. Yang tersisa hanyalah sebuah jalan sempit untuk masuk.

pasarlama01

Masuk ke halaman bangunan semua berubah, seperti masuk ke dunia yang berbeda. Bangunan yang diperkirakan didirikan pada pertengahan abad 17 ini sangat terawat dan tampak megah. Sangat kontras dengan suasana pasar di luar pagar. Restorasi yang dilakukan mempertahankan seluruh bagian dan dibuat mengikuti bentuk aslinya yang berarsitektur tradisional Cina.

Setelah membeli tiket, saya menunggu waktu untuk masuk. Setiap satu jam ada seorang pemandu yang akan membawa berkeliling dan menjelaskan mengenai bangunan dan koleksi yang ada di dalamnya. Dimulai dengan ruang bawah yang digunakan sebagai tempat makan dan dapur. Kemudian dilanjutkan dengan ruang atas yang menjadi galeri seluruh koleksi.

Museum Benteng Heritage adalah tempat yang paling tepat untuk menelusuri budaya Cina Benteng di Tangerang. Merupakan museum Cina peranakan pertama dan satu-satunya di Indonesia. Menjelajah museum ini seperti masuk ke lorong waktu karena saya menemukan banyak hal-hal unik di balik sejarah kehidupan etnik Tionghoa serta berbagai artefak yang menjadi saksi bisu kehidupan masa lalu.

Yang selalu menarik perhatian saya adalah hiasan diatas genteng inner court. Potongan keramik warna-warni yang disusun membentuk relief mengenai Three Kingdom, indah dan bercerita. Sistem kunci pintu rumah yang membuat penasaran, sejarah mengenai Cina Benteng – yang diperkirakan merupakan bagian dari armada Laksamana Cheng Ho, pabrik kecap tradisional yang tidak ada nomor duanya, galeri berbagai kamera tua dan masih banyak lagi yang lainnya.

Saya sudah tiga kali mengunjungi museum ini, dan selalu ada hal baru yang saya dapatkan disetiap kunjungan. Beruntung kali terakhir bertemu dan sempat berbincang dengan Bapak Udaya Halim, pemilik dan pendiri Museum Benteng Heritage. “Profesor” tamatan SMP yang mempunyai visi kebhinekaan yang luar biasa. Dibawah pengelolaan beliau, tidak heran museum ini sudah meraih beberapa penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri.

pasarlama02

Informasi lengkap mengenai Museum Benteng Heritage silahkan kunjungi http://www.bentengheritage.com

Terbius Suasana Klenteng Boen Tek Bio

Setelah Museum Benteng Heritage, saya mengunjungi Klenteng Boen Tek Bio yang terletak tidak jauh dari museum, tepatnya di persimpangan jalan Bhakti dan jalan Cilame. Klenteng ini disebut juga sebagai Klenteng Kebajikan (Tek=kebajikan) dan diperkirakan didirikan pada abad 18.

Disini saya baru mengetahui kalau Klenteng merupakan sebutan khas Indonesia. Tempat ibadah ini sebenarnya disebut dengan kuil, tetapi diperkirakan masyarakat menyebut bangunan ini sebagai Klenteng karena bunyi lonceng genta yang digunakan sebagai instrumen untuk sembahyang. Teng… teng… teng… yang kemudian menjadi Klenteng.

Di Klenteng Boen Tek Bio saya mendapati banyak benda antik peninggalan dari abad 18 yang masih digunakan sebagai bagian dari prosesi sembahyang. Beberapa benda antik tersebut diantaranya adalah genta atau lonceng yang terdapat di sebelah kanan pintu masuk dan diperkirakan dibuat pada tahun 1835. Selain itu, sebagai lambang penjaga serta kekuatan dan keberanian, terdapat Cioh Sai atau Singa Batu di kanan dan kiri pintu masuk. Dan lagi-lagi saya baru mengetahui kalau dua patung ini adalah sepasang Singa jantan dan betina. Yang membedakannya adalah benda yang terdapat di kaki patung-patung singa tersebut. Cioh Sai ini diperkirakan dibuat pada tahun 1827. Tempat menancapkan hio, sepasang tungku pembakaran kertas dari logam yang dicat berwarna merah, dan beberapa benda lainnya juga merupakan benda antik.

pasarlama06

Buat saya, mengunjungi dan masuk ke Klenteng itu wajib dimana pun saya menjelajah. Suasana serba merah, nyala api dari lilin-lilin raksasa dan bau hio yang terbakar selalu memberikan kesan tersendiri buat saya.

Informasi lengkap mengenai Klenteng Boen tek Bio silahkan kunjungi http://www.boentekbio.org

Menjelajah Bangunan Tua

Selain Museum Benteng Heritage dan Klenteng Boen Tek Bio, masih terdapat beberapa bangunan tua di kawasan Pasar Lama. Hal ini dikarenakan pada abad 18, kawasan ini merupakan pusat dan titik nol dari kota Tangerang. Saya menyusuri jalan-jalan kecil dan menemukan beberapa bangunan yang sudah tampak hancur atau digantikan dengan bangunan baru, tetapi sisa-sisa bangunan tua masih dapat ditemui di beberapa sudut. Rumah dengan arsitektur tradisional Cina, Masjid dengan menara persegi delapan – yang diperkirakan mendapat pengaruh dari budaya Cina, bangunan pabrik kecap tradisional, dan yang paling menarik perhatian adalah bangunan kuning bernama Roemboer Tangga Ronggeng. Bangunan tua yang sudah direstorasi ini digunakan sebagai galeri untuk pameran Kaligrafi pada saat perayaan Peh Cun 2015.

pasarlama04

Bersantai sambil Bersantap di Tepi Sungai Cisadane

Tidak jauh dari Roemboer mengalir Sungai Cisadane. Banyak para pedagang makanan, buah-buahan, dan barang lainnya yang berjualan di sepanjang jalan Raya Kalipasir. Siang itu saya mencicipi Bakmie Ayam ditambah Bakso Ayam & Udang Goreng. Ditutup dengan Es Dawet sambil memandangi sungai Cisadane yang berwarna coklat. Pada waktu tertentu, lomba pacu perahu Naga digelar di sungai yang membelah kota Tangerang ini.

Sate Cobra Sampai Bubur Kepiting, Wisata Kuliner Jalan Ki Samaun

Hampir jam lima sore saat saya kembali ke jalan Ki Samaun tempat memarkir mobil. Jalanan yang tadinya dipenuhi oleh parkir kendaraan, sekarang bertambah ramai dengan puluhan gerobak pedagang aneka kuliner. Jalan Ki Samaun memang ditetapkan oleh Pemda Tangerang sebagai pusat wisata kuliner. Mau makan apa? Dari Sate Ular, Sop Biawak, Bubur Kepiting, Sate Ayam, Roti Canai, Siomay Babi, Kue Podeng Kelapa Muda, sampai Kebab dan Dimsum serta kuliner lainnya juga tersedia. Sore itu saya sempat mencicipi extreme food berupa 1 tusuk sate ular dan biawak di Tenda 2 Cobra – yang walaupun rasanya enak tetapi akan jadi ular dan biawak terakhir yang secara sadar saya makan, 1 mangkok mie kepiting di tenda Bubur & Mie Kepiting, 5 tusuk sate ayam H Ishak – yang bisa habis 1,000 tusuk semalam, dan 2 potong Kue Podeng Kelapa Muda. Kenyang luar biasa.

pasarlama05

Yang perlu kamu tahu:

  • Museum Benteng Heritage buka setiap hari, kecuali hari Senin, pukul 10.00 – 17.00
  • Karcis masuk museum Rp20,000/orang
  • Tidak diperkenankan memotret dan merekam video pada bagian dalam museum
  • Klenteng Boen Tek Bio terbuka untuk umum. Karena ini tempat ibadah, selalu hormati orang-orang yang sedang bersembahyang
  • Roemboer Tangga Ronggeng hanya terbuka pada saat-saat tertentu saja
  • Bakmie Ayam di jalan Raya Kalipasir biasanya sudah habis pada pukul dua siang, sementara pedagang kuliner lainnya berjualan sampai malam hari
  • Datanglah pada sore hari, karena pedagang berbagai kuliner di jalan Ki Samaun mulai berdagang diatas jam empat sore

@kawanjelajah

#ayojelajahindonesia

Terima kasih untuk  Mutia, Chaya, Dika, Yudha, Dewi, Adryan, mbak Endah, yang sudah bergabung di Jelajah Pasar Lama Tangerang bersama @kawanjelajah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s