MOREA BELUT RAKSASA

Hai Kawan,

Pantai terindah versi UNDP sampai belut raksasa, Morea, semuanya ada! Bermotor dua hari, diterpa panas dan hujan dengan senang hati saya jalani, demi menyambangi tempat-tempat indah di Ambon, Maluku.

Pagi itu masih mendung saat saya mulai bermotor bersama Bang Musa dari terminal Batu Merah, Ambon. Awalnya berniat untuk naik angkutan umum menuju Pantai Liang sebagai tujuan pertama. Tetapi setelah menunggu setengah jam, angkutan tak kunjung terisi. Bang Musa yang menjadi calo angkutan menawarkan untuk mengantarkan berkeliling Ambon. Tawaran diterima dengan senang hati.

Gerimis mulai turun saat motor membelah jalan provinsi menuju Desa Liang. Pantang berhenti, hujan pun diterjang. memang cuaca saat itu kurang bersahabat. langit mendung dan gerimis hadir dan pergi sepanjang waktu.

Satu jam bermotor, sampailah di Pantai Liang. Pantai yang pada tahun 1990 dinobatkan oleh UNDP sebagai pantai terindah di Indonesia. Meskipun mendung dan ombak cukup tinggi, keindahannya masih dapat terlihat. Pasir putih dengan deretan pohon Ketapang menjadi latar depan birunya air laut. Duduk di dermaga kayu menemani anak-anak memancing menjadi hiburan tersendiri pagi itu.

2 ambon 11

Selesai mengisi perut, di pelabuhan ferry yang terletak tak jauh dari Pantai Liang, perjalanan dilanjutkan. Bang Musa menolak menemani saya makan dengan alasan sudah makan di rumah. Beliau memang orang asli Desa Liang, tetapi menghabiskan masa SMA-nya di Bandung. Wajar jika gaya bahasanya tak sekental orang Ambon asli.

Tujuan berikutnya adalah Air Waiselaka, Desa Waai. Kolam air tawar yang dihuni ikan-ikan air laut yang telah beradaptasi dan tentu saja Morea, belut raksasa. Perlu beberapa kali berhenti bertanya untuk mencari tempat ini. Walaupun orang Maluku asli, Bang Musa ternyata belum pernah mengunjunginya.

Tombak yang dilemparkan, menancap ke tanah, dan mengeluarkan air, menjadi legenda dari kolam Air Waiselaka. Dipercaya juga ada terowongan bawah tanah yang menghubungkan kolam dengan laut. Kolam ini juga merupakan sumber air bagi masyarakat sekitarnya. Mulai untuk memasak, mandi, sampai mencuci. Morea pun akhirnya hidup berdampingan. Ibu-ibu yang sedang mencuci piring ataupun baju tampak tidak terganggu dengan Morea yang berada di dekatnya, begitu pun sebaliknya.

Tapi tak sembarang orang bisa memanggil dan memegang Morea. Hanya pawang saja yang dapat melakukannya, Pak Mapaku salah satunya. Berbekal telur ayam dan jentikan di air, belut-belut raksasa menghampirinya. Saya pun diizinkan untuk menyentuh, bahkan mengelus belut-belut tersebut. Terkadang kelakuan mereka seperti seekor kucing. Menempel dan mengeluskan dirinya di kaki. Licin.

2 ambon 12

Setelahnya, Bang Musa menawarkan saya untuk menyegarkan diri sejenak, berendam di Air Panas Hatuasa. Panasnya memang sangat menyegarkan. Lelah setelah 5 hari diperjalanan paling tidak sedikit terurai. Kolam air panas ini biasa dikunjungi pada pagi hari dan sore sampai malam hari, cerita Bang Musa. Saya kemudian membayangkan harus melalui jalan diantara hutan tanpa penerangan di malam hari untuk menuju tempat ini.

Saat perjalanan menuju kolam air panas kami bertemu dengan seorang petani yang sedang membawa setandan besar Pisang. Ada yang aneh dengan arah tumbuh Pisang. Tidak selayaknya Pisang pada umumnya yang tumbuh mengarah ke bawah, Pisang ini tumbuh mengarah ke atas. Inilah yang disebut Pisang Tongkat langit atau Tunjuk Langit. Jadi selama perjalanan Baronda Maluku saya sudah bertemu dengan dua jenis Pisang, Mulu Bebe dan Tunjuk Langit. Unik.

Sudah saatnya mandi sore ketika motor memasuki Desa Tulehu. Desa yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini punya sebuah kolam mandi, yang dibentuk dari sungai, di tengah kampung. Walaupun mempunyai kamar mandi di rumah masing-masing, Kolam Pemandian Wailatu tetap digunakan warga untuk membersihkan diri, khususnya sebelum shalat Jumat, ataupun sebelum memasuki bulan Ramadhan. Anak-anak ramai bermain di kolam bagian atas, sementara ibu-ibu sibuk mencuci di bagian bawah, dan Morea tetap berenang dengan tenang diantara mereka.

Iya, Kolam Pemandian Wailatu juga dihuni oleh belut-belut raksasa. Jumlahnya ratusan dan tersebar di kolam bagian atas dan bawah. Cara panggilnya berbeda dengan di Air Waiselaka. Para pemuda setempat menawarkan saya untuk memanggil Morea dengan pancingan potongan ikan kecil. Dengan Rp50,000, seplastik ikan kecil sudah siap menjadi umpan. Darah lah yang pertama digunakan untuk memancing dan kemudian potongan ikan. Tidak perlu menunggu lama sampai ratusan Morea berebut makan potongan ikan tersebut diantara kaki saya. Seru dan mendebarkan.

2 ambon 13

Selesai bermain air bersama Morea, perjalanan dilanjutkan kembali. Pantai Natsepa jadi tujuan. Pantai berpasir abu-abu sehalus bedak ini menjadi favorit warga sekitar Kota Ambon karena jaraknya yang tidak jauh dari kota. Selain itu, posisinya yang terletak di selat Ambon membuatnya juga tidak berombak. Tetapi bukan pasir dan ombak yang membuat pantai ini terkenal. Rujaknya yang menjadi primadona Pantai Natsepa. Belum lengkap mengunjung pantai ini tanpa mencicipi rujak buah dengan bumbu gula merah dan kacang tanah yang luar biasa lezatnya. Entah apa yang berbeda. Tapi pastinya saya pun membawa bumbu rujak buatan mama Eli saat kembali ke Jakarta.

2 ambon 14

2 ambon 15

Matahari semakin turun dan motor kembali ke jalan. Tujuan berikutnya adalah Monumen Martha Christina Tiahahu di Karang Panjang yang bersebelahan dengan Gedung DPRD Maluku. Dari bukit, tempat monumen, lampu-lampu Kota Ambon mulai menyala seiring dengan matahari yang mulai tenggelam.

2 ambon 16

Berakhir sudah perjalanan saya hari itu. Bang Musa menurunkan saya di alun-alun Kota Ambon. Tempat monumen Pattimura berdiri tegak melatar belakangi lapangan utama dengan tulisan besar Ambon Manise. Lapangan yang berada diantara Gedung Kantor Gubernur Maluku, Gong Perdamaian, dan penginapan saya malam kemarin sampai besok malam.

Sebelum kembali ke penginapan, saya menyempatkan diri untuk makan malam. Pilihan makan malam ini adalah ikan bakar segar yang dijual di tenda-tenda yang tersebar sepanjang jalan Sam Ratulangi. Silahkan pilih ikan ataupun cumi. Dengan nasi, sambal, lalap, dan segelas es Jeruk, cukup mengeluarkan uang Rp35,000 saja.

Capek, senang, dan kenyang. Mari beristirahat, masih ada pantai-pantai di Ambon bagian Selatan yang besok harus dijelajahi.

Ikuti penjelajahan saya berikutnya, 9 hari baronda di Maluku Utara dan Maluku. Klik JELAJAH untuk menerima notifikasinya lewat email.

@kawanjelajah

#ayojelajahindonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s