Melihat Tobelo dari Mata Pak Seba

Hai Kawan,

Pulau, pantai, telaga, sumber air panas, Raronggeng, Cakalele, Culek-Culek, sampai pesta tahun baru yang berkepanjangan. Melihat Tobelo dari mata seorang Pak Seba. Selalu menarik mendengarkan cerita dari penduduk setempat.

Hari sudah sore saat saya tiba di Tobelo. Supir mobil travel menurunkan saya di depan sebuah penginapan, Esterlina. Penginapan yang terletak tepat di pintu masuk pelabuhan Tobelo.

Saya bertemu Pak Seba pertama kali sore itu. Setelah bertanya untuk perahu yang bisa mengantarkan saya berkeliling ke pulau-pulau di sekitar Tobelo, seorang tukang ojek menunjuk perahu Pak Seba yang sedang merapat. Beliau, bersama anaknya yang masih duduk di sekolah dasar, baru saja menurunkan penumpang terakhir dari Pulau Kumo. Pulau tempat tinggalnya, yang juga menjadi salah satu tujuan wisata di Tobelo. Setelah berbincang dan bernegosiasi sebentar, kami berjanji untuk bertemu lagi disini besok pagi.

Jam 9 pagi Pak Seba sudah menunggu di perahunya. Beliau tidak banyak berkata-kata, tetapi dari cara berbicaranya yang sedikit, saya tahu kalau Pak Seba sudah sering berhubungan dengan orang luar. Beliau tidak kesulitan menangkap cara berbicara saya yang cenderung cepat. Berbeda dengan kebanyakan orang di Tobelo yang sudah saya temui. Saat saya harus mengulang dengan perlahan kata demi kata dan kesulitan menangkap apa yang dikatakan lawan bicara.

Sepanjang perjalanan melintasi beberapa pulau, Pak Seba hanya menjawab apa yang saya tanyakan saja. Menunjuk ke pulau-pulau dan menyebutkan namanya. Tetapi saat memasuki Pulau Tagalaya, beliau berubah menjadi seorang pemandu yang banyak bicara.

Setelah snorkeling sebentar, saya kembali ke perahu dan berbincang dengan Pak Seba. Pak Seba, 46 tahun, bukan merupakan penduduk asli Tobelo. 36 tahun yang lalu keluarganya pindah dari salah satu kepulauan di Sulawesi Utara. Sehari-hari bekerja sebagai buruh di salah satu pabrik di Tobelo. Di hari libur menjadikan perahunya sebagai mata pencaharian tambahan dengan menyeberangkan wisatawan ke Pulau Kumo yang terletak tidak jauh dari Tobelo.

“Saya besar di Tobelo, menikahi wanita asli Tobelo, dan punya anak di Tobelo. Saya orang Tobelo,” tegas beliau.

seba01

Beliau bercerita soal pesta panjang tahun baru di Tobelo. Hampir setiap rumah punya speaker besar untuk memutar lagu-lagu disko berbahasa daerah.

“Saya punya 10 di rumah, tapi tahun ini diistirahatkan. Biar tetangga yang mengeluarkan speaker-nya,” jelas Pak Seba. “Biasanya setiap rumah punya 10 sampai 30 speaker untuk digunakan pada saat-saat seperti ini.”

Saya sempat melewati beberapa titik keramaian saat perjalanan ke Tobelo kemarin. Tidak hanya diletakkan di depan rumah, speaker-speaker tersebut juga di bawa dengan gerobak atau mobil bak terbuka. Berkeliling diikuti rombongan yang menari-mari di jalanan. Raronggeng, itu kata Pak Seba untuk tarian-tarian yang dilakukan masyarakat. Tidak jarang dua rombongan bertemu dan adu keras suara.

seba02

“Besok hari Senin, dan aktifitas sudah normal kembali. Jadi hari ini puncak pesta tahun baru. Masyarakat Tobelo punya cerita, apa yang sudah didapatkah tahun sebelumnya, dinikmati tahun sebelumnya. Tahun depan kita cari lagi untuk tahun depan.” Jadilah pesta berlimpah makanan dan minuman. Tidak hanya orang dewasa yang ikut serta, anak-anak juga ambil bagian pada perayaan ini.

“Beda dengan Raronggeng, Cakalele itu tari tradisional Maluku. Tari Perang. Biasanya untuk menyambut tamu atau pesta adat. Menari diiringi alat musik tradisional,” jelas Pak Seba saat saya bertanya tentang tarian tradisional. “Raronggeng sepertinya diambil dari bahasa Jawa, Ronggeng.”

Kesimpulan saya Raronggeng adalah istilah untuk menari dengan musik disko berbahasa daerah. Empat jam diatas mobil travel yang tidak berhenti memutarnya membuat saya sempat hafal dengan beberapa liriknya.

Setalah panjang lebar menceritakan Raronggeng, Cakalele, dan juga Culek-Culek, Pak Seba menyarankan saya untuk mngunjungi Air Panas Mamuya, Telaga Biru, Pantai Luari, dan juga Pantai Kupa-Kupa. Sudah jauh-jauh ke Tobelo, tempat-tempat tersebut wajib dijelajahi.

“Jangan lupa coba Pisang Mulu Bebe. Mudah-mudahan ada yang jualan, karena semua orang sedang pesta,” beliau mengingatkan.

Tidak terasa satu jam sudah kami berbincang diatas perahu, yang tidak tertambat di pesisir Pulau Tagalaya. Saatnya melanjutkan perjalanan mengunjungi pulau lainnya dan kembali ke Tobelo. Pak Seba juga harus kembali ke Pulau Kumo sebelum sore. Beliau tidak mau ketinggalan penutupan pesta tahun baru di kampungnya. Terima kasih untuk obrolan singkat siang ini Pak. Obrolan yang membuat saya melihat Tobelo dari mata seorang penduduknya.

Kawan, menjelajah bukan sekedar untuk mengunjungi tempat wisata saja. Interaksi dengan penduduk setempat akan membuka mata kita untuk melihat, mengerti dan menghargai perbedaan dan kearifan lokal. Jadi selalu luangkan waktu untuk berbincang dengan penduduk setempat. Dan selalu ingat bahwa kita adalah tamu di rumah mereka! Selamat berinteraksi.

@kawanjelajah

#ayojelajahindonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s