JELAJAH WASPADA HALMAHERA

Hai Kawan,

Saat tiba di Tobelo, ada satu pertanyaan yang membuat saya tersenyum, namun kemudian sedikit khawatir: tidak takut diculik mas? Pertanyaan tersebut dilontarkan seorang penjaga penginapan di Tobelo. Kekhawatiran sebelumnya adalah kondisi Gunung Gamalama yang masih bergemuruh. Kekhawatiran batal menjejakkan kaki dan menjelajahi Ternate.

Berteman gerimis, 13 jam sebelumnya, pesawat yang saya tumpangi meninggalkan Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Pukul 01.40 pagi, waktu yang tepat untuk mengistirahatkan badan setelah sehari sebelumnya masih harus mengurusi pekerjaan kantor. Dan itulah yang saya lakukan saat duduk di bangku pesawat ini, tidur.

Dua setengah jam kemudian saya dibangunkan pramugari yang mengantarkan makanan. Cahaya mulai tampak dari balik jendela pesawat. Cahaya oranye yang selalu saya nantikan, terbitnya matahari. Dibawah sana sejauh mata memandang hanya lautan berwarna biru gelap.

Perlahan matahari mulai tinggi. Biru gelap lautan mulai menerang dengan pulau-pulau berada diantaranya. Pulau-pulau berbentuk gunung yang dikelilingi pasir putih dan kehijauan air laut. Alasan saya selalu memilih duduk disisi jendela saat terbang, menikmati keindahan alam dari ketinggian. Gunung Gamalama yang masih berasap tampak dikejauhan, dengan cincin rumah-rumah di Kota Ternate yang mengelilinginya.

baronda11

Yadi, seorang teman di Jakarta yang kini tinggal di Ternate sudah menunggu. Siap membawa berkeliling Kota Ternate. Saya menceritakan rencana untuk langsung ke Tobelo. Akhirnya pagi ini kami hanya sarapan Nasi Kuning dengan Ikan Cakalang Fufu. Kemudian Yadi mengantarkan saya ke pelabuhan penyeberangan A. Yani untuk menyeberang ke Halmahera dengan kapal cepat. Saya berjanji dua hari lagi akan menginap di rumahnya dan siap diajak round Gunung Gamalama.

Satu hal yang harus dilakukan sebelum menyeberang adalah mengabadikan Pulau Tidore dan Pulau Maitara seperti yang tergambar di uang pecahan seribu rupiah.

baronda13

Rp50,000 dan setengah jam kemudian, saya sampai di pelabuhan Sofifi, ibukota Provinsi Maluku Utara. Jangan membayangkan kota yang ramai. Dibandingkan dengan Ternate, Sofifi kalah jauh. Bahkan sebagian besar PNS di Provinsi Maluku Utara berdomisili di Ternate. Bersama saya, mereka yang kesiangan menyeberang untuk berangkat bekerja.

Perjalanan masih belum selesai, untuk mencapai Kota Tobelo, saya masih masih harus menempuh perjalanan darat selama 4 jam dengan “taksi” bersama. Sebuah mobil Avanza yang bisa memuat tujuh orang penumpang dengan tarif Rp100,000/orang untuk tujuan Tobelo. Seperti biasa saya menjadi penumpang pertama dan harus menunggu sampai mobil penuh.

Taksi berjalan lambat di jalan provinsi yang sangat mulus ini. Sesekali menaikkan atau menurunkan penumpang.  Perjalanan yang seharusnya hanya 4 jam molor menjadi 5 jam. Itu sudah ditambah setengah jam makan siang di sebuah rumah makan ditengah perjalanan. Seporsi nasi, ayam bakar, tumis kangkung, dan teh manis panas seharga Rp35,000, jadi makan siang saya.

Akhirnya setelah 4 jam diatas pesawat, setengah jam perjalanan laut dan 5 jam diatas mobil, saya sampai di Tobelo, kota yang 2 minggu lalu bahkan tidak pernah saya tahu ada dimana. Supir taksi mengantarkan saya ke penginapan Esterlina yang terletak di pintu masuk Pelabuhan Tobelo.

Setelah pertanyaan tentang culek-culek atau penculikan, penjaga ini menebak saya sebagai seorang wartawan yang sedang bertugas meliput. Kembali saya hanya tersenyum. Rp180,000 saya bayarkan untuk sebuah kamar sederhana dengan kamar mandi dalam, kipas angin dan sebuah TV tabung 21″ yang tergantung didinding. Cukuplah untuk berisitirahat 2 malam.

Selesai mandi, mulailah penjelajahan saya di Kota Tobelo. Pertama ke pelabuhan mencari kapal untuk menjelajahi pulau besok hari dan kemudian berkeliling kota. Saya memilih becak motor, yang jadi transportasi tradisional di kota ini. Tidak banyak yang bisa dilihat di Kota Tobelo. Khususnya saat saya datang adalah waktu terakhir pesta tahun baru. Sebagian besar toko dan rumah makan tutup. Akhirnya saya melewatkan sore di pelabuhan. Waktu yang tepat saat nelayan baru kembali dari melaut dan bongkar muat hasil tangkapannya. Beberapa orang bandar ikan sudah menunggu dan membeli semua hasil tangkapan untuk kemudian dijual ke berbagai tempat di Tobelo dan sekitarnya.

baronda14

baronda15

Hari pertama yang panjang dan melelahkan. Paling tidak hari ini Gunung Gamalama sudah lebih ramah dan mengizinkan saya mendarat di Ternate. Pertanyaan tentang culek-culek sementara terlupakan karena capek. Ayo kawan kita beristirahat dulu, besok masih banyak yang harus dijelajahi.

Ikuti penjelajahan saya berikutnya, 9 hari baronda di Maluku Utara dan Maluku. Klik JELAJAH untuk menerima notifikasinya lewat email.

@kawanjelajah

#ayojelajahindonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s