JELAJAH LEMBONGAN & CENINGAN

Hai Kawan,

Seingat saya, lebih dari dua puluh tahun terakhir saya tidak mengendarai sepeda motor. Dan hari itu saya harus mengendarainya sendiri. Bukan karena mau, tetapi karena harus. Motor satu-satunya alat transportasi paling tepat untuk menjelajahi Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan.

Setengah jam sebelum tiba di Lembongan, saya masih di Pantai Sanur, mengantri tiket kapal cepat ke Nusa Lembongan. Tiket pulang pergi seharga Rp190,000 saya dapatkan di loket yang terletak sejajar dengan restoran ikan goreng Mak Beng. Sayangnya saya datang kesiangan. Kapal cepat menuju Jungut Batu di Nusa Lembongan sudah berangkat. Saya pun harus memilih kapal lain yang akan berlabuh di Mushroom Beach, juga di Nusa Lembongan.

Jungut Batu dan Mushroom Beach tidak terpaut jauh. Jarak kedua tempat ini cukup 15 menit berkendara motor. Di loket penjualan tiket, Mushroom Beach hanya ditulis sebagai Nusa Lembongan. Jadi jika ingin ke Nusa Lembongan, pastikan dulu pelabuhan mana yang akan dituju. Saya sendiri harus menuju ke Jungut Batu, karena penginapan saya adanya dekat pelabuhan itu. Yang unik saat menaiki kapal cepat, semua sandal dan sepatu harus dikumpulkan dalam satu kotak besar. Dan ketika sampai di  tujuan, alas-alas kaki itu sudah bertebaran di pantai siap untuk diambil.

Sesampai di Mushroom Beach, sebuah sepeda motor tua berwarna merah tanpa plat nomor dan kaca spion saya sewa Rp100,000 untuk dua hari. Bensinnya penuh. Ujian pertama saya sesampai di Nusa Lembongan adalah bermotor menuju Pantai Jungut Batu, tempat saya menginap malam itu.

Rada gamang juga mengemudi motor saat itu. Apalagi saya harus melewati jalan desa selebar satu mobil dengan aspal yang sudah berlubang disana-sini. Saya lebih sering berhenti untuk membiarkan motor atau mobil melewati saya yang berjalan cukup lambat. Bukan hanya karena masih menyesuaikan diri dengan motor dan berhati-hati dengan jalanan yang berlubang, pemandangan laut lepas, pantai dan Desa Jungut Batu saat melewati Panorama Point tidak bisa saya lewatkan begitu saja.

2 lembongan8

Sampai di Pantai Jungut Batu bukan berarti ujian selesai. Ujian lainnya adalah mencari tempat penginapan saya malam itu. Sebagai paket dengan tiket kapal yang dibeli, penumpang juga diberikan peta sederhana Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan lengkap dengan nama penginapan dan tempat-tempat menarik yang wajib dikunjungi. Jujur saja karena terlalu sederhana peta tersebut tidak banyak membantu. Saya tetap mengandalkan Google Maps diantara signal telepon selular yang kadang ada kadang tidak. Sambil mengamati peta, keluar masuk gang kecil dengan sepeda motor bukan lah hal yang mudah.

Setelah berganti pakaian dan makan siang, dimulailah penjelajahan saya. Tujuan pertama adalah menjelajahi Nusa Ceningan. Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan bertetangga, hanya dihubungkan sebuah jembatan kayu tua berwarna kuning. Dan saya harus melewatinya bersama motor yang saya kendarai. Saya harus menarik nafas panjang sebelum menambah gas motor saat melewati jembatan yang lebarnya tak lebih dari dua meter dan panjang 100 meteran itu. Melewatinya pun harus bergantian. Untuk seorang yang baru kembali mengendarai motor setelah sekian lama, taruhannya adalah jatuh ke laut dari ketinggian lima meter. Sungguh itu bukan suatu keadaan yang saya bayangkan. Saya pun akhirnya memilih berhenti dan turun dari motor saat bertemu pejalan kaki di tengah-tengah jembatan.

2 lembongan6

Jalan-jalan di Nusa Ceningan tidak lebih baik dari Nusa Lembongan. Untuk mencapai tempat-tempat tertentu, jalanannya lebih kecil dan lebih menyiutkan nyali saya. Lokasi pertama yang ingin saya tuju adalah Dream Point, pantai landai dengan pecahan karang dan batu-batu karang besar. Di pantai itu, ombak pecah di kejauhan. Arus air yang sampai ke pantai pun lirih. Lokasi itu pun menjadi tempat pertanian rumput laut. Pusatnya adalah di selat yang memisahkan kedua pulau, tepatnya di sekitar jembatan Kuning yang saya lewati tadi.

2 lembongan5

Dari Dream Point saya melanjutkan penjelajahan ke Blue Lagoon, yang dulu terkenal sebagai tempat untuk melakukan cliff jumping. Melihat besarnya ombak dan ketajaman batu karang yang ada, tidak lah heran jika aktivitas ini tidak diperbolehkan lagi karena faktor keamanan. Tempat ini tidak mudah ditemukan karena tidak ada petunjuk dan tidak ada jalanan dalam bentuk jalanan yang sebenarnya. Saya menemukan tempat ini karena nekat keluar dari jalan utama dan menemukan jalan tanah setapak yang membawa saya ke ujung tebing karang, Cliff Jump Blue Lagoon. Hasil dari kenekatan itu adalah jatuh dari motor dan sedikit luka-luka disekitar lutut akibat alang-alang dan perdu liar. Walaupun tidak lagi menjadi tempat cliff jumping, Blue Lagoon masih menjadi tempat favorit untuk dikunjungi. Teluk kecil berwarna biru terbentuk dari batu-batu karang raksasa, yang menjadi sarang burung walet, inilah yang menjadi asal namanya.

2 lembongan1

Setelah Blue Lagoon, penjelajahan berikutnya adalah mencari Secret Beach yang letaknya benar-benar rahasia. Walaupun tidak ada tanda larangan untuk memasuki kawasan Villa Trevally, bermotor dan berjalan diantara bungalow-nya seperti memasuki wilayah pribadi tanpa izin. Secret Beach memang terletak di kawasan eco resort ini. Jadi satu-satunya akses ke sana tentu melalui jalan diantara penginapan Villa Trevally. Karakteristik Secret Beach hampir sama dengan Dream Point, pasir hanya ditepian yang kemudian berlanjut pecahan karang dan karang dengan ombak yang cukup besar. Pantai-pantai ini lebih cocok digunakan sebagai tempat berselancar.

2 lembongan9

Hari pertama saya tutup dengan menikmati suasana sunset di pasir Pantai Jungut Batu. Pantai yang berada di bagian Barat Nusa Lembongan ini memang jadi salah satu tempat terbaik untuk menikmati matahari tenggelam. Suara gamelan dari sebuah Pura dekat penginapan dan suara ombak menemani saya makan malam.

2 lembongan7

Waktunya berisitirahat. Besok penjelajahan laut sekitar Nusa Lembongan, Nusa Ceningan, dan Nusa Penida sudah terjadwalkan.

Ikuti penjelajahan saya di perairan sekitar  Lembongan, Ceningan, dan Penida. Klik JELAJAH untuk menerima notifikasinya lewat email.

@kawanjelajah

#ayojelajahindonesia

Terima Kasih Mas Tatang sudah mengedit artikel ini untuk Sriwijaya in flight Magazine edisi Januari 2016.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s